Unpad Dorong Perluasan Produksi Beras Organik di Garut

[Unpad.ac.id, 10/04/2017] Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Garut dan Bank Indonesia melakukan pengembangan agribisnis pertanian di bidang padi organik di kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut.

Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad, bersama Bupati Garut, H. Rudi Gunawan, saat meninjau lahan padi organik usai penandatanganan Nota Kesepahaman Pengembangan Agribisnis Organik di Kecamatan Cilawu, Garut, Senin (10/4). (Foto: Tedi Yusup)*

Kerja sama tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesempahaman antara Unpad-Pemkab Garut-Bank Indonesia yang digelar di Desa Mangkurakyat, Kecamatan Cilawu, Garut, Senin (10/4). Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Rektor Unpad Prof. Tri Hanggono Achmad dengan Bupati Garut Rudi Gunawan, dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kanwil Jabar Juda Agung, PhD. Turut hadir Dekan Fakultas Pertanian Unpad, Dr. Ir. Sudarjat, MP.

Pengembangan sektor pertanian padi dipilih berdasarkan data potensi Garut yang memiliki peringkat luas lahan panen dan produksi padi terbesar ke-5 di Jawa Barat, yaitu sebesar 160.668 hektar dengan rata-rata produksi sebesar 972 ton, atau sekitar 117 kuintal per hektarnya.

Hal inilah yang membuat Bank Indonesia semangat untuk mendorong peningkatan produksi padi di Garut. Juda mengatakan, upaya peningkatan tersebut tidak bisa dilakukan sendiri. Untuk itu, pihaknya menggandeng Pemkab Garut dan Unpad guna mendukung pengembangan khususnya di sektor agribisnis pertanian.

Lebih lanjut Juda mengatakan, upaya Bank Indonesia dalam meningkatkan sektor pertanian didasarkan pada pentingnya peran pertanian, terutama di sektor beras, dalam menjaga stabilitas harga. Jika harga beras terkendali, maka harga pangan lain pun diyakini akan terkendali. Selain mendorong peningkatan produktivitas, cara lain untuk menekan inflasi ialah memperpendek mata rantai distribusi beras.

“Kami ingin terus mengembangkan klaster beras. Inflasi komoditas beras ini tahun lalu sudah terjadi di bawah 3%,” ujar Yuda.

Pengembangan padi organik sendiri merupakan upaya pertama yang dilakukan Bank Indonesia. “Ini dapat menjadi sebuah contoh, pilot project, yang nantinya bisa direplikasi di tempat lain,” kata Juda.

Pengembangan Pangan Ramah Lingkungan

Upaya pengembangan padi organik selaras dengan  rencana Pemkab Garut dalam mengembangkan kawasan pengembangan desa organik. Cilawu sendiri merupakan satu dari empat wilayah yang sudah dicanangkan Pemkab dalam mengembangan produksi organik di wilayah Garut.

“Kalau seandainya produksi beras organik ini misalnya 7 ton per hektar, dijual dengan harga Rp20.000 (perkiraan 2x lipat harga per kg beras biasa), pasti semua akan beralih ke organik,” kata Rudi.

Dengan adanya kerja sama ini, Rudi mengatakan, semua pihak memiliki peran masing-masing. Dari segi pengembangan teknologi, Rudi mendorong Unpad untuk mengembangkannya. Sementara pihaknya melalui Pemkab terus mendorong penyediaan lahan untuk pertanian padi organik.

“Kita ‘kan sekarang punya DAK (Daerah Alokasi Khusus), kalau memang di daerah tertentu tidak ada jaringan irigasinya, maka kita akan arahkan (ke padi organik),” sambung Rudi.

Sementara itu, Dr. Tomy Perdana, M.M., Dosen Fakultas Pertanian Unpad yang terlibat dalam pendampingan pengembangan produksi beras organik di Kecamatan Cilawu mengatakan, harga beras organik di pasaran terbilang baik. Setidaknya ada tiga sisi keuntungan yang didapat dari pengembangan beras organik.

“Dengan organik ini dari sisi ekonomi dia bisa ada transfer nilai tambah, sehingga (petani) akan dapat harga yang lebih baik,” kata Dr. Tomy.



Keuntungan kedua yang dipaparkan Dr. Tomy ialah siklus kesinambungan. Padi organik secara penerapan terbilang ramah lingkungan. Keuntungan ketiga, dari sisi manfaat, beras organik jauh lebih sehat dibandingkan beras biasa. Di Desa Mangkurakyat, Cilawu, sendiri, Dr. Tomy melakukan pendampingan terhadap 25 hektar lahan padi organik. Lahan ini telah disertifikasi baik secara nasional maupun internasional dalam 3-4 tahun terakhir.

“Ini juga akan melibatkan berbagai sektor. Dari sisi peternakan, pengembangan padi organik membutuhkan kebutuhan pupuk kompos yang tinggi, maka kebutuhan akan sektor peternakan akan masuk ke situ. Kita juga akan siapkan pola kemasan dari beras organiknya,” jelas Dr. Tomy.

Adapun kerja sama pengembangan padi organik ini merupakan implementasi Unpad dalam mendukung kelestarian lingkungan. Di sisi lain, lahan padi organik ini dapat dimanfaatkan mahasiswa sebagai sarana kuliah lapangan atau media penelitian.

Sementara itu, Rektor mengharapkan kerja sama ini dapat meningkatkan kapasitas dari para petani. Para petani diharapkan sudah mulai berpikir multisektor. Maka, capain utama yang harus ditargetkan para kelompok tani Cilawu adalah mampu menembus pasar ekspor.

“Kalau kita (sudah) bicara ekspor, maka para gabungan kelompok tani akan terbangun sikap bersungguh-sungguh bekerja secara bersama,” kata Rektor.*

 

Laporan oleh Arief Maulana

The post Unpad Dorong Perluasan Produksi Beras Organik di Garut appeared first on Universitas Padjadjaran.