Rektor Kukuhkan 2 Guru Besar Baru di Unpad

[Unpad.ac.id, 13/04/2017] Untuk meningkatkan jumlah ketersediaan energi listrik di Indonesia, pengembangan dan penelitian terkait sumber energi alternatif tidaklah cukup. Selain mencari sumber energi baru untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik, hal yang penting diperhatikan adalah terkait efisiensi penggunaan dan efisiensi pengiriman atau penyaluran energi listrik dari sumber energi ke pemakai. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan superkonduktor.

Rektor Unpad Prof. Dr. Tri Hanggono Achmad mengukuhkan jabatan Guru Besar kepada Prof. Dr. Risdiana, S.Si, M. Eng dan Prof. Dr. Jutti Levita, M.Si di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Kamis (13/04) (Foto oleh : Tedi Yusup)*

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Risdiana, S.Si, M. Eng saat membacakan Orasi Ilmiah berkenaan dengan Penerimaan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Fisika Kajian Bahan Magnet dan Superkonduktor pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran, di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Kamis (13/04). Orasi Ilmiah yang dibacakan Prof. Risdiana berjudul “Pengembangan Bahan Superkonduktor: Kajian Sifat Fisis dan Prospek Pemanfaatannya untuk Pemenuhan Kebutuhan Energi Nasional”.

Prof. Risdiana mengungkapkan bahwa perangkat yang saat ini digunakan untuk menyalurkan energi listrik adalah kabel dengan bahan dasar tembaga. Menurut International Electrotechnical Commission (IEC), 8-15% energi listrik hilang pada saat penyaluran energi ini dari sumber pembangkit energi ke pemakai. Hal tersebut terjadi karena adanya hambatan listrik (resistivitas) dari bahan transmisi yang digunakan.

“Superkonduktor adalah material yang memiliki nilai hambatan listrik nol ketika didinginkan sampai suhu tertentu,” ujar pria kelahiran Tasikmalaya, 5 Mei 1975 ini.

Lebih lanjut Prof. Risdiana mengungkapkan bahwa superkonduktor telah menjadi salah satu topik utama sejumlah peneliti di dunia, untuk dikembangkan dalam berbagai keperluan teknologi, diantaranya sebagai bahan dasar kabel transmisi.

“Namun demikian, rendahnya suhu operasi yang diperlukan agar material ini tetap dalam keadaan superkonduktor, kehandalan bahan ini dalam menerima berbagai gangguan luar, dan teori dasar bagaimana sifat superkonduktor dapat muncul pada bahan, menjadi kendala dalam pemanfaatan dan pengembangan material ini,” ujar Prof. Risdiana.

Untuk itu, penelitian dan kajian sifat-sifat fisis bahan superkonduktor sangat penting dilakukan, baik aspek penelitian dasar maupun terapan. Penelitian dasar yang Prof. Risdiana lakukan lebih menitikberatkan pada penemuan teori fisika yang dapat menjelaskan aturan umum bagaimana suatu bahan dapat dibentuk menjadi bahan superkonduktor.

Prof. Risidana juga berpendapat bahwa pemanfaatan bahan superkonduktor untuk berbagai aplikasi di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara maju. Salah satu penelitian yang ia dengan tim lakukan adalah memanfaatkan bahan superkonduktor untuk kabel transmisi tanpa hambatan dan pembuatan prototipe kereta magnetic levitation yang dapat menghemat pemakaian energi listrik untuk menggerakkan kereta dengan kecepatan tinggi.

“Penelitian untuk memanfaatkan bahan superkonduktor masih harus terus dilakukan dengan dukungan dari berbagai pihak agar keberadaan bahan ini dapat menjadi salah satu solusi krisis energi yang terjadi di dunia,” ujarnya.

Orasi Ilmiah Prof. Jutti Levita

Pada kesempatan tersebut, orasi ilmiah juga dibacakan Prof. Dr. Jutti Levita, M.Si., Apt berkenaan dengan penerimaan jabatan Guru Besar dalam Bidang Farmakologi Molekular pada Fakultas Farmasi Unpad. Prof. Jutti membacakan orasi ilmiah berjudul “Mencari Inhibitor COX-2 dari Tanaman Sambiloto: Sebuah Model Peta Jalan Riset Farmakologi Molekular”.

“Meskipun target kerja obat saat ini mulai ditunjukan ke arah DNA dan reaksi DNA-RNA, target konvensional masih tetap merupakan objek riset yang menarik,” ujar perempuan kelahiran Surabaya, 9 April 1963 ini.



Orasi ilmiah Prof. jutti tersebut membahas peta jalan riset farmakologi molekular dengan target kerja enzim COX menggunakan herba sambiloto sebagai model. Herba sambiloto merupakan salah satu bahan obat tradisional yang paling banyak dipakai di Indonesia, dan dapat dijumpai hampir di seluruh kepulauan nusantara.

Upaya pencarian inhibitor COX-2 dijelaskan menggunakan model senyawa diterpenoid bisiklik andrografolid, konstituen utama herba sambiloto. “Senyawa ini mudah diabsorpsi, terlokalisir di pusat radang, dan memiliki ketersediaan hayati baik, sehingga berpotensi untuk dijadikan kandidat anti-inflamasi,” jelas Prof. Jutti.

Laporan oleh: Artanti Hendriyana/wep

 

The post Rektor Kukuhkan 2 Guru Besar Baru di Unpad appeared first on Universitas Padjadjaran.