Ini yang Harus Diperhatikan Praktisi Humas di Era Keterbukaan Informasi Publik

[unpad.ac.id, 19/05/2017] Pesatnya perkembangan teknologi informasi seharusnya dimanfaatkan setiap institusi sebagai upaya meningkatkan reputasi. Karena saat ini, citra institusi secara sederhana dapat terlihat dari bagaimana gambarannya dalam mesin pencari otomatis di dunia maya.

pakar Drone Emprit Ismail Fahmi, PhD, dalam Workshop “Media dan Public Relations: Strategi Meningkatkan Institution Performances di Era Digital”, di Unpad Training Center, Jalan Ir. Djuanda No. 4, Bandung, Kamis (18/05). (Foto: Tedi Yusup)*

“Apa yang orang lihat tentang lembaga kita di Google, ya itu wajah kita. Kalau mau wajah kita bagus, ya perbaiki,” ungkap pakar Drone Emprit Ismail Fahmi, PhD, dalam Workshop “Media dan Public Relations: Strategi Meningkatkan Institution Performances di Era Digital”, di Unpad Training Center, Jalan Ir. Djuanda No. 4, Bandung, Kamis (18/05).

Workshop yang digelar Direktorat Tata Kelola dan Komunikasi Publik/Kantor Internasional Unpad ini juga menghadirkan pembicara lainnya, yaitu Direktur Pemberitaan MNC Media Arya Sinulingga, CEO Good News from Indonesia Wahyu Ajie, dan Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat Rahim Asyik. Acara dibuka oleh Direktur Tata Kelola dan Komunikasi/Kepala Kantor Internasional Unpad Ade Kadarisman, M.Sc., M.T.

Ismail menilai, banyak capaian/program unggulan universitas yang harus disampaikan dengan baik kepada masyarakat. Media digital menjadi salah satu sarana efektif untuk menyampaikan kepada masyarakat. Semakin banyak informasi tersebut terekam di dunia maya, maka citra institusi akan meningkat pesat.

Pemanfaatan laman resmi juga harus diperhatikan institusi. Ismail mengatakan, penyajian berbagai informasi statis maupun dinamis menjadi konten yang harus ada dalam laman resmi. Kemudahan masyarakat dalam mengakses dan memahami informasi di laman juga akan meningkatkan reputasi institusi.

“Membuat web dengan berbagai konten di dalamnya menjadi semacam kereta api. Kita (institusi) mengajak penumpang umum untuk masuk ke kereta api. Kita yang jual kereta apinya ,” kata Ismail.

Penyajian seluruh konten ini membutuhan kerja sama baik dengan seluruh unit kerja. Dalam hal ini, pihak universitas harus menjalin kerja sama yang baik dengan seluruh unit kerja dan fakultas. Jika seluruh konten dapat tersaji dalam laman, Ismail menyimpulkan, kerja sama antar unit kerja dan lembaga sudah terjalin dengan baik.

Sementara itu, Arya Sinulingga memaparkan mengenai profesionalisme parktisi Humas dalam melakukan aktivitas kehumasan. Seorang praktisi Humas, dia harus mampu mengategorikan relasi. Dengan demikian, penyampaian informasi kepada relasi Humas harus disesuaikan dengan kategori dan karakteristiknya.

“Kita harus tau audiens kita. Jangan samakan antara bahan informasi ke relasi wartawan dengan masyarakat umum,” ujar Arya.



Jika relasi menyasar kelompok muda, Arya berpendapat, praktisi Humas harus dapat memanfaatkan media sosial sebagai bahan penyampaian informasi. Ia menilai, generasi muda saat ini lebih senang mengakses media sosial ketimbang membaca koran cetak.

Terkait relasi dengan media, praktisi Humas harus membangun hubungan baik dengan wartawan. “Humas harus men-support wartawan dengan memberikan data dan informasi yang dibutuhkan oleh wartawan. Humas jangan curiga kepada wartawan,” kata Arya.

Terkait peran komunikasi publik, Ade Kadarisman mengatakan, institusi harus mampu mengelola informasi dalam mewujudkan good governance. Selain itu, implementasi transparansi dan akuntabilitas juga harus diperhatikan institusi.

“Saat pola komunikasi tersumbat, lembaga akan mati,” kata Ade.*

 

Laporan oleh Arief Maulana

The post Ini yang Harus Diperhatikan Praktisi Humas di Era Keterbukaan Informasi Publik appeared first on Universitas Padjadjaran.