Diskusi “Sejarah Kaum Terpinggirkan”

Diskusi “Sejarah Kaum Terpinggirkan”

Diskusi tentang Orang-orang yang Terbuang Pasca 1965 dan Bedah Buku Nasib Manusia karya Syarif Maulana

Hari/Tanggal : Selasa, 24 Februari 2015
Waktu : 13.00 – 15.30 WIB
Pembicara : Syarif Maulana (penulis buku Nasib Manusia: Kisah Orang yang Tak Bisa Pulang, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Telkom)
Taufiq Hanafi (dosen Sastra Inggris FIB Unpad, pengkaji sastra bandingan lulusan University of Oregon)
Tempat : Aula Pusat Studi Bahasa Jepang
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Bandung-Sumedang Km 21 Jatinangor, Sumedang

Jika kita ingin mengetahui fakta-fakta tentang suatu perusahaan, siapa yang hendak kita tanyai, apakah orang yang menjabat di posisi direktur, atau orang yang bekerja sebagai satpam atau cleaning service? Dengan mudah, mungkin kita bisa menjawab yang pertama. Mengapa? Karena bagaimanapun, direktur tahu tentang sejarah, visi misi, kebijakan, problem, hingga profit perusahaan, secara detil dan mendalam. Satpam atau cleaning service? Mereka mungkin hanya tahu ruang lingkup pekerjaan dirinya, dan kebijakan-kebijakan yang bersifat pragmatis –terkait langsung dengan hajat hidupnya sendiri, seperti gaji atau bonus-.

Namun jika hendak ditelaah dari sudut pandang lain, bisa jadi seorang satpam atau cleaning service punya pandangan yang lebih luas tentang suatu perusahaan. Dengan hanya mengerjakan pekerjaannya sehari-hari, ia bisa menemukan hal-hal yang tidak terduga –yang tidak mungkin dipaparkan oleh seorang direktur-. Misalnya, kenyataan bahwa sepanjang satpam bekerja, gaji selalu terlambat dibayarkan. Belum lagi, gaji tersebut dipotong sekian persen oleh alasan yang tidak ia pahami. Bahkan seorang cleaning service bisa saja memergoki sekumpulan staf perusahaan yang tertidur atau merokok di ruang kerjanya masing-masing, ketika bos-bos mereka sedang tidak di tempat. Artinya, lewat sudut pandang satpam atau cleaning service, kita bisa menemukan fakta yang lain, yang justru lebih indrawi dan terkait dengan pengalaman, daripada pandangan seorang direktur yang cenderung berlandaskan data-data yang kaku dan ideologi yang sempit.

Apa yang dipaparkan di atas adalah ilustrasi dari apa yang dikatakan oleh sejarawan Prancis, Lucien Febvre sebagai “Histoire vue d’en bas en non d’en haut” (“Sejarah yang dilihat dari bawah dan bukan dari atas”). Howard Zinn kemudian memperkuat ucapan Febvre tadi dalam pernyataannya, “Di dunia yang penuh konflik antara yang kuat dan yang lemah, yang menindas dan yang ditindas ini, ada baiknya kita tidak melihat sejarah dari sisi para eksekutor, melainkan justru dari mereka-mereka yang dieksekusi.”

Sesuai apa yang dikatakan Zinn, dalam diskusi kali ini, kita akan membicarakan sejarah dari sudut pandang orang-orang yang dieksekusi. Kita sama-sama tahu bahwa Indonesia mengalami gejolak politik serius di tahun 1965. Terdapat peristiwa G 30 S yang berisi pembunuhan sejumlah jenderal Angkatan Darat, dalam rangka kudeta terhadap pemerintahan yang sah. Peristiwa G 30 S tersebut, berpuluh tahun lamanya, dipropagandakan sedemikian rupa oleh pemerintahan Orde Baru, sebagai ulah orang-orang berideologi komunisme -maka itu segala bentuk ajaran komunisme dilarang di Tanah Air, bahkan hingga sekarang-. Namun tidak banyak orang tahu, bahwa sebenarnya, Orde Baru melakukan tindak kekerasan luar biasa terhadap orang-orang yang berafiliasi dengan komunisme. Kekerasan tersebut bentuknya beragam, mulai dari melakukan pembantaian secara langsung, membuangnya ke Pulau Buru, hingga melarang pulang mereka yang sedang studi di negara lain -terutama negara-negara komunis seperti Tiongkok dan Uni Soviet-.

Awal Uzhara adalah salah satu orang yang dieksekusi oleh Orde Baru dengan cara yang terakhir. Berangkat ke Moskow dalam rangka sekolah film, ia dinyatakan tidak boleh pulang pada tahun 1968 -sehingga harus tinggal di sana selama lebih dari lima puluh tahun-. Meski terpinggirkan dalam sejarah, Awal tidak begitu saja menyerah. Di tahun 1990-an, ia mengajar bahasa dan sastra Indonesia untuk para mahasiswa Rusia di Universitas Negeri Moskow. Hal tersebut seolah menegaskan bahwa meski ia terpinggirkan, ia ingin tetap menjadi bagian dari perjalanan negeri ini.

Dalam diskusi kali ini, kita akan membahas tentang orang-orang yang terpinggirkan oleh sejarah, terutama kaitannya dengan Indonesia pasca 1965, bersama Taufiq Hanafi yang merupakan pengkaji sastra bandingan lulusan University of Oregon. Selain itu, dengan metode history from below, mungkin kita bisa menemukan banyak fakta menarik tentang sejarah Indonesia, dari perjalanan hidup Awal Uzhara yang tertuang dalam buku Nasib Manusia: Kisah Orang yang Tak Bisa Pulang -yang ditulis oleh Syarif Maulana-. (release (Sandya Maulana)/rat)