Bunga Claudya, Aktivis, Juara dan Jiwa Sosial

BUNGA CLAUDYA selain fokus dalam kegiatan akademik, mahasiswa jurusan Jurnalistik Fikom Unpad angkatan 2012 ini serius menggeluti organisasi. Menurutnya organisasi adalah proses belajar secara profesional. Selain itu, ia juga sarat dengan prestasi dan memiliki jiwa sosial.

Bunga belajar untuk membaca situasi pada tiap organisasi berdasarkan kacamata komunikasi. Ia benar-benar merasakan perbedaan dalam hal komunikasi, misalnya saat ia berada di organisasi Biro Kerohanian Islam (BKI), Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (HMJ) dan BEM Fikom Unpad. Masing-masing organisasi membuat Bunga semakin dewasa dalam menilai keadaan dalam kehidupan berkelompok.

“Aku kalo organisasi ga berani bilang sebagai belajar, karena kalo belajar itu kan bisa salah-salah, tapi kalo aku coba profesional gitu loh,” jelasnya.

Gadis asal Riau ini merupakan tipe mahasiswa yang sangat terstruktur, ia benar-benar menyusun secara detail apa saja hal-hal yang perlu dilakukannya pada setiap semesternya. Di semester satu dia menargetkan untuk mengikuti lomba-lomba dan masuk ke organisasi-organisasi biasanya masih menjadi anggota, semester 3 masih aktif di organisasi, lalu semester 4 masih organisasi dan mulai menerima amanat-amanat menjadi pimpinan, lantas semester 5 adalah puncak-puncaknya amanat.

“Disaat temen-temen yang lain masih jadi anggota, aku udah jadi Kadiv (Ketua Divisi), misalnya di HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurnalistik) aku udah jadi Kadiv bersama dengan kepengurusan angkatan 2011,” ujarnya.

Ia melakukan itu semua dengan alasan bahwa di semester-semester akhir ingin fokus untuk kuliah dan mengikuti lomba. Menurutnya kita harus cerdas dalam membatasi apa yang harus kita lakukan di setiap semesternya. Dengan begitu, kita bisa membagi prioritas kegiatan yang bermanfaat bagi diri kita.

Prestasi  dan Jiwa Sosial

Prestasi pun sudah menjadi bagian dari hidup Bunga Claudya, sederetan prestasi telah ia peroleh sedari pelajar hingga saat ini. Dari setumpuk prestasi tersebut, bagi dirinya ada dua lomba yang sangat berkesan. Dua lomba itu ia ikuti pada semester 6. “Ada dua lomba yang aku alami semester lalu, itu tuh bener-bener ngasih hikmah banget soalnya ternyata diskusi itu adalah puncaknya,” ungkapnya.

Pada semester satu Bunga pernah mengikuti lomba ekonomi tahun 2012 di Fakultas Ekonomi Pembangunan Unpad (FEB), Ia berhasil memperoleh penghargaan, karena Bunga menjalankannya berdasarkan minat. Berlainan dengan kedua lomba yang diikutinya ini, Bunga dan rekannya mengikuti lomba di “Pekan Komunikasi” UI 2015 dan  di ajang Journalist Days 2015: Call For Paper Lifestyle Journalism. Pada ajang Pekom UI 2015, Bunga dan rekannya hanya mampu keluar sebagai finalis. Ia mengakui, tidak memprediksi untuk mengikuti lomba ini, karena sebenarnya lomba ini masuk dalam ranah ilmu Manajemen Komunikasi, serta berbicara soal riset dan kampanye.

Bunga dan Timnya juga memperoleh penghargaan sebagai Finalist of  Media Matters “Pekan Komunikasi” UI 2015. Dua minggu setelah lomba di Pekom UI, Bunga kembali mengikuti ajang Journalist Days 2015: Call For Paper Lifestyle Journalism. Segala kekurangan baik dalam persiapan dan mental lantas diperbaiki oleh Bunga dan rekannya berdasarkan pengalaman di lomba sebelumnya. Ia pun berhasil menyabet gelar sebagai “Best Team” Journalist Days 2015: Call For Paper Lifestyle Journalism.

Mahasiswa yang terpilih sebagai Leader pada Action: “Onigiri” Jenesys ke Jepang ini menyadari bahwa sebagai mahasiswa ia merasa harus peduli terhadap kegiatan sosial.

Aku udah mulai ngajar dari kelas 2 SMA di Rumah Zakat ada mentor yang kurang mampu gitu. Ternyata, aku sendiri melihat bahwa pendidikan itu timpang, antara orang kaya dan orang miskin,” ungkapnya.

Setelah membaca sejumlah buku, lantas selalu muncul keinginan dalam diri Bunga untuk segera membagikan ilmunya kepada orang lain. Hal itu diwujudkan Bunga dengan mengajar di Jatinangor Education Care (JEC).

Bunga kerap menancapkan pemikiran bahwa kampus adalah kehidupan penuh strategi. Strategi dapat menuntun langkah kita dalam menjalankan aktivitas di perkuliahan. Ia menganalogikan hidup layaknya saat kita ingin pergi ke suatu tempat tujuan maka kita perlu mengetahui menggunakan kendaraan apa, melalui jalan yang seperti apa, aman atau tidak. Walaupun pada realitanya tidak selalu berjalan mulus, setidaknya kita memiliki struktur gambaran yang jelas sehingga membuat hidup lebih terarah. (Hilda Julaika)