Akrabkan Nuklir ke Masyarakat, Badan Pengawas Tenaga Nuklir Jalin Kerja Sama dengan Unpad

[unpad.ac.id, 23/05/2017] Di kalangan masyarakat, nuklir kerap dipahami sebagai jenis senjata pemusnah massal. Padahal, nuklir merupakan teknologi yang ditemukan dalam berbagai aplikasi, termasuk teknologi pengobatan bagi penderita kanker di rumah sakit.

Wakil Rektor Bidang Bidang Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama dan Korporasi Akademik Unpad Dr. Keri Lestari, M.Si., Apt., bersama Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Prof. Dr. Jazi Eko Istiyanto, M.Sc., saat melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman Unpad-Bapeten di ruang Executive Lounge Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung. (Foto: Tedi Yusup)*

Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Prof. Dr. Jazi Eko Istiyanto, M.Sc., membenarkan, pemahaman nuklir di masyarakat merupakan sesuatu yang menakutkan. Perlu ada komunikasi efektif perihal pemanfaatan tenaga nuklir dalam mendukung kehidupan.

”Kita butuh komunikasi baik kepada masyarakat,” ujar Prof. Jazi di sela penandatanganan Nota Kesepahaman antara Unpad dengan Bapeten di ruang Executive Lounge Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Selasa (23/05).

Terkait tenaga nuklir, Bapeten sudah melakukan serangkaian kerja sama dengan sejumlah universitas di Indonesia. Kerja sama menyasar pada pengembangan teknologi nuklir, termasuk penelitian bersama terkait keselamatan nuklir, dan pembahasan amandemen Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang ketenaganukliran.

Sementara pada aspek komunikasi, Bapeten menggandeng Unpad sebagai mitra untuk mengomunikasikan nuklir kepada masyarakat. Melalui Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Bapeten berharap nuklir dapat menjadi sesuatu yang akrab di telinga masyarakat. Pola komunikasi efektif juga menyasar sejumlah pasien kanker yang hendak melakukan pengobatan dengan terapi nuklir.

Lebih lanjut Prof. Jazi mengatakan, di beberapa rumah sakit sudah mulai menerapkan pengobatan menggunakan radioaktif. Bapeten sendiri menjadi lembaga yang memberikan izin dan melakukan pengawasan terhadap penggunaan nuklir di rumah sakit. Jawa Barat, lanjut Prof. Jazi, menjadi provinsi yang sudah dilakukan pengawasan nuklir oleh Bapeten.

“Mengapa Jawa Barat? karena Jabar merupakan pengguna nuklir paling banyak (di bidang kedokteran) sesudah Jakarta,” ujar Prof. Jazi.

Dengan banyaknya penggunaan tenaga nuklir ini, Prof. Jazi mengharapkan Unpad mampu melakukan komunikasi yang baik kepada masyarakat. Di sisi lain, ia pun mendorong Fikom Unpad-Bapeten menrumuskan matriks terkait budaya keselamatan di bidang nuklir.

“Saya gandeng Unpad karena ketika orang berbicara soal komunikasi, pasti yang terbayang adalah Ilmu Komunikasinya Unpad,” ungkap Prof. Jazi.

Penandatanganan Nota Kesepahaman tersebut dilakukan antara Wakil Rektor Bidang Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama dan Korporasi Akademik Unpad Dr. Keri Lestari, M.Si., Apt., dengan Prof. Jazi. Turut hadir dalam acara tersebut Dekan Fikom Unpad Dr. Dadang Rahmat Hidayat, M.Si., sejumlah pimpinan Bapeten serta pimpinan dan dosen Fikom Unpad.

Dalam sambutannya, Dr. Keri mengatakan, kerja sama Unpad-Bapeten ini dinilai sangat menguntungkan. Di pihak Unpad, banyak para dosen yang meneliti terkait nuklir. Diharapkan aspek hilirisasi riset tentang nuklir dapat memiliki arah kebijakan yang jelas.

“Nuklir ini bisa jadi tema riset. Tema nuklir banyak diminati oleh penyedia hibah penelitian. Hasil riset ini membutuhkan Bapeten, agar hasil riset tersebut aman dan bisa masuk ke masyarakat,” ujar Dr. Keri.

Sementara untuk kerja sama terkait komunikasi publik, Unpad-Bapeten diharapkan dapat melakukan studi kasus yang simpulannya pada bagaimana keinginan masyarakat terkait branding nuklir oleh Bapeten.*

 

Laporan oleh Arief Maulana

The post Akrabkan Nuklir ke Masyarakat, Badan Pengawas Tenaga Nuklir Jalin Kerja Sama dengan Unpad appeared first on Universitas Padjadjaran.